Blogger Widgets "BE A GOOD MOSLEM OR DIE ASY-SYUHADA"

Selasa, 17 Februari 2015

Catatan Seorang Santri Hidayatullah Tentang Abah

Ustadz H. Abdul Aziz Muslim -Rahimahullah- yang Saya Kenal
(Ta’ziah itu Penguatan Hati, Mari Mengenal dan Mendoakan Beliau dan Keluarga)

Bismillah…
Lebih dari Ustadz dan Guru, beliau seperti orang tua sendiri Saya memanggilnya Abah, walaupun dalam hati Bukan tanpa alasan, ada nilai historis dalam perjalanan hidup…

Tengah tahun 1980an, beliau bergabung menjadi santri Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Mendapati langsung tarbiyah dan pengkaderan KH. Abdullah Said -Rahimahullah- sang pendiri lembaga perjuangan tarbiyah dan dakwah Islam tersebut. Dalam masa pengkaderan, di masa bujang, beliau pernah sama-sama bertugas dengan Abi ana Ustadz Jamaluddin Ja’far -Hafidzahullah- yang saat itu juga santri ke cabang Kuaro, menanam kelapa sawit di sana.

Tahun 1989, Beliau -Rahimahullah Rahmatan Wasi’ah- berjuang bersama Abi ana di ujung timur Indonesia, merintis cabang Hidayatullah di Jayapura, Irian Jaya (Papua saat ini). Bahkan beliau hadir lebih dahulu dari abi ana yang masih berstatus pengantin baru saat itu, mempersiapkan lokasi yang cocok sebagai markas dakwah di jantung pulau Cenderawasih sana.


“Jayapura dulu bukan seperti Jayapura yang maju sekarang, dulu hutan dan banyak nyamuknya, besar-besar lagi nyamuknya, seperti anak ayam kata orang sana… Waktu Abahmu ditugaskan ke sana, saya sangat senang, jamaah di sana juga senang karena bacaan Qur’an abahmu bagus, adzannya juga merdu,” Kisah beliau padaku di libur musim panas Agustus lalu.

Akhir tahun 1990, beliau menyaksikan kehadiranku di dunia ini. Beliau yang bertugas mencarikan beras, sayur-mayur dan ikan buat keluarga ana, khususnya Ummi ana yang memang saat itu sangat membutuhkan pasokan gizi pasca melahirkanku di medan dakwah nun jauh di sana.

“Waktu Ummimu melahirkanmu, Dinul, kasihan sekali. Dia melahirkan anak pertamanya di negeri asing, jauh dari keluarga. Alhamdulillah… Kita hidup berjamaah, saling membantu dalam merawatmu di medan tugas. Waktu usia kamu sekitar 6 bulan, kamu sakit keras dan dirawat di rumah sakit, Abi Ummimu kasihan, repot sekali merawatmu. Makanya, jangan pernah kamu durhaka sama mereka berdua,” pesan Ustadz Aziz -Rahimahullah- usai makan malam di rumah beliau di Kuaro, Agustus lalu.

Tengah tahun 2008, beliau menyambutku dan sahabat saya Abdus Salam di kampus Hidayatullah Kuaro, Kab. Paser, Kaltim. Saat itu kami berdua mendapat amanah pengabdian di selama satu tahun di sana. Sambutan hangat bak keluarga sendiri, begitupun dengan sambutan dan perhatian Istri beliau Ummi Sri Yuliyanti dan anak-anaknya yang sebagian menjadi murid kami di pendidikan dasar.

“Selamat bergabung di Kuaro, semua yang akan Dinul dan Salam temui di pesantren ini adalah proses pengkaderan. Kalau dijalankan dengan ikhlas, insya Allah akan mudah, dan kalau sukses di pengabdian ini insya Allah perjalanan antum ke depan akan semakin diberkahi. Oya, kalau ada keperluan, jangan ragu kasih tahu ke saya…” Kata beliau di masjid as-Salam Hidayatullah Kuaro, Juli 2008 lalu.

Tengah tahun 2009, saya bertemu Ustadz Aziz -Rahimahullah- di Atrium Senen, Jakarta Pusat. Beliau memberi motivasi dan menguatkan saya untuk terus berjuang menuntut ilmu, karena waktu itu saya lagi ‘down’ setelah gagal tembus kuliah di LIPIA, Jakarta.

“Belajar ilmu syariah itu bukan cuma di LIPIA, masih banyak yang lain, yang penting dinul jangan balik dulu ke Balikpapan. Saya sangat mendukung kalau Dinul punya rencana lanjutan ke Ar-Raayah, Sukabumi. Di sana bahasa Arabnya juga bagus. Semoga cita besar Dinul untuk belajar ke Madinah bisa diraih lewat sana, yang penting terus berdoa dan belajar,” kata beliau menguatkan saat makan malam bersama di Jakarta.

Akhir 2012, beliau melepas saya menuju kota Nabi Muhammad -Shallallahu Alaihi Wasallam-, al-Madinah.

“Alhamdulillah, selamat Akhi, cita-cita antum ke sana diijabah Allah. Madinah itu tempat impian setiap muslim, manfaatkan nikmat besar ini untuk belajar yang sungguh-sungguh, bayangkan, antum bukan sekedar ziarah ke sana, tapi tinggal dan belajar langsung dari sumbernya. Semoga menjadi ulama besar ke depan. Semoga saja kalau Fadhil lulus nanti bisa ke Madinah juga, tapi saya sih sebenarnya kepengen dia ke Ummul Quro di Makkah sana,” kata beliau saat berpamitan di masjid as-Salam.

Agustus 2014, kami banyak berdiskusi dan bertukar informasi di rumah beliau di Kuaro. Membicarakan kondisi terkini dan tantangan dakwah di tanah air, juga perkembangan politik dan dinamika pergerakan lembaga dakwah tercinta.

“Tantangan dakwah kita semakin berat sekarang, baik tantangan internal dan eksternal. Di luar sana, Syiah sudah mulai berani menunjukkan dirinya, khusus di Kaltim ini mereka sudah mulai menyusup ke pemerintahan dan KPU, saya tahu betul cara kerja mereka. Belum lagi tantangan dari kaum liberal muda, sufi dan para pentaqlid buta, sementara di dalam lembaga kita sendiri masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Makanya, Dinul harus lebih serius belajarnya di Madinah, sambil terus menyerap kondisi lapangan kita di daerah-daerah, supaya tahu kebutuhan yang diperlukan ke depan.

Harus ada gambaran nyata tentang tantangan itu, supaya Dinul siap menghadapinya, juga supaya belajarnya lebih semangat. Jangan setelah lulus nanti pekerjaan paling besarnya adalah menjadi imam di masjid tertentu dan sudah, tidak, tidak boleh begitu, harus terjun ke lapangan menyelesaikan permasalahan umat. Imam di masjid, guru besar di kelas sekaligus panglima di medan dakwah, seperti al-Fatih kan begitu.

Selamat belajar, selamat berjuang, semoga ada rezeki dan panjang umur, kita ketemu di Madinah nanti…” beberapa pesan akhir beliau di libur musim panas Agustus kemarin.

Dan kini… Awal September 2014, begitu cepat terasa, tapi harus diikhlaskan… Perjalanan hidup yang indah, bergabung di jalan dakwah dan istiqomah sampai akhir hayat. Beliau wafat di medan tugas Kuaro, setelah hampir 21 tahun menetap tugas di sana. Di antara karya-karya akhir beliau yang sempat saya rekam adalah mengawal berdirinya SMA Hidayatullah Kuaro tahun 2014 ini, dan beliau mendapat amanah menjadi guru bidang studi IPA. Semoga amal ibadah dan pengabdian beliau diterima di sisi Allah, menjadi amal jariyah yang tidak terputus pahalanya.

Selamat jalan, Ustadz, Abah. Selamat bertemu dengan janji-janji Allah dan Rasul-Nya buat mereka yang istiqomah di jalan dakwah ini. Semoga tercatat sebagai syuhada, dilapangkan kuburnya menjadi taman syurga dan semoga kita dipertemukan kembali di Syurga Firdaus tertinggi. Amiin…

Bersama doa dan salam berkah dari tanah suci al-Madinah an-Nabawiyah, buat keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini. Sesungguhnya pahala orang-orang yang bersabar itu Allah berikan sepenuhnya tanpa pengurangan sedikitpun.

7 Dzulqo’dah 1435/ 2 September 2014
Muhammad Dinul Haq
____________

0 komentar:

Posting Komentar